Perbedaan Bisa Menerima dan Tidak Bisa Menerima Ujian Hidup

 

Saat pertama kali divonis sebagai pasien gagal ginjal kronis dan hipertensi, pertama kali ya menerimanya karena konsekuensi kesalahan pola makan dan pola hidup di masa lalu yang tidak teratur. Akhirnya menjalani kontrol rutin agar tidak cuci darah selama kurun waktu 4 tahun ( 2017 - 2021) dengan hati yang ikhlas dan ridho, jadi tidak jadi beban pikiran.

Juli 2021 pada saat pandemi covid, awal mula status gagal ginjal kronis menjadi stadium 5 atau akhir yang mau gak mau harus wajib cuci darah. Di awal cuci darah sudah menerima ini sebagai takdir seumur hidup yang harus dijalani. Jadi sudah menerima secara ikhlas dan ridho atas ujian ini.

Akhir April 2025, ujian terberat kualami, kejadian yang tidak terduga, kejatuhan motor saat memarkirkan motor di halaman rumah yang mengakibatkan patah tulang siku tangan kiri, yang di atas lengan tangan kiri terdapat alat akses cuci darah atau AV Shunt. AV Shunt dicek masih berfungsi dengan baik. Tapi karena tulang siku yang patah harus di operasi, alat akses cuci darah dipindah sementara di leher pakai CDL (cateter double lumen), itu juga melalui operasi pemasangan CDL. Ujian patah tulang siku ini adalah ujian terberatku, karena belum sepenuhnya menerima kondisi yang dialami.

Setelah itu satu bulan kemudian pada saat cuci darah berjalan dengan lancar, ketika pulang tiba-tiba ngedrop merasa mual-mual dan muntah, sekitar 2 Minggu atau 4 kali cuci darah, kondisi terakhir saat itu mengalami kondisi seperti orang yang mau pingsan, karena penglihatan terasa sangat terang sedangkan mata meredup terlihat mata putihnya saja, pendengaran terasa samar-samar.

Dari kejadian itu, kondisi fisik merasa demam selama tiga hari. Akhirnya periksa ke dokter dengan cek darah di laboratorium, yang hasilnya dirujuk untuk opname karena mengalami kondisi pneumonia dan infeksi pada alat akses cuci darah CDL yang di leher sehingga harus dicabut melalui operasi dan cuci darah sudah kembali melalui AV Shunt.

Pada saat opname, benar-benar mengalami rasa sakit pada siku tangan kiri dan tangan kanannya ada infus. Karena sakit tersebut mengalami kesulitan tidur dan sempat terkena mental hingga melihat penampakan yang tidak seharusnya bisa dilihat. Alhamdulillah setelah melalui doa dan bisa istirahat tidur dengan nyenyak, kondisi fisik sudah mulai segar dan sakit yang kurasakan tidak menjadi pikiran, berangsur-angsur kondisi jasmani dan rohaniku mulai membaik dan normal seperti sediakala.

Dari kejadian ujian dan cobaan yang kurasakan, maka pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa proses penerimaan kondisi sakit dengan hati ikhlas dan ridho menerima takdir-Nya yang telah diberikan padaku adalah proses terbaik untuk memanage semua kondisi jasmani dan rohani secara lebih baik sehingga terasa lebih menyehatkan. Sedangkan bila belum menerima dapat melemahkan kondisi jasmani dan rohani sehingga lebih banyak mengalami gangguan kesehatan.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS MENGUATKAN SEMANGAT HIDUPKU

NIKMATNYA MAKAN HARI INI

NGEDROP